29 Des 2009

Mematangkan Suara Mahasiswa

Hari-hari di Universitas Indonesia akhir-akhir ini sarat dengan proyek-proyek pembangunan yang tak bisa dianggap sepele. Kira-kira setahun yang lalu, saya mulai bisa merasakannya. Di awal semester genap, mahasiswa UI (kampus Depok) diperkenalkan dengan alat transportasi baru yang sangat menarik perhatian, yaitu bus kuning baru ber-AC dan sepeda kuning. Waktu pun berjalan, muncullah pelaksanaan proyek pembangunan gedung Perpustakaan Pusat baru yang direncanakan menjadi yang terbesar di Asia (atau mungkin dunia? Saya lupa). Sementara gedung perpustakaan belum selesai pun, “pemerintah” UI masih menambahkan proyek-proyek lain di kampus ini. Yang saya maksud adalah pembangunan Rumah Sakit dan gedung untuk Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi.


Tentu saja pembangunan-pembangunan fisik semacam ini menghabiskan dana yang luar biasa banyak -setidaknya jika dibandingkan dengan uang bulanan mahasiswa UI- dan juga menuai komentar yang beragam pula. Yang saya angkat di sini adalah, ketidaksetujuan warga UI terhadap pembangunan-pembangunan ini. Tidak sedikit warga UI yang menanyakan ketepatan Rektorat dalam membelanjakan uang yang dimiliki oleh universitas. Mereka beranggapan, tidak ada gunanya menjalankan proyek-proyek fisik yang mahal jika kualitas pendidikan di kampus ini still not meet the needs of university. Tidak ada gunanya perpustakaan yang besar jika warganya sendiri masih belum bisa memanfaatkan perpustakaan yang ada. “Jangan- jangan cuma jadi tempat mahasiswa ngadem”, kata mereka. Ada pula yang mengiyakan bahwa kita butuh pembangunan fisik, tapi bukan dalam bentuk bikun AC, gedung fakultas baru, lapangan parkir yang luas, atau perpustakaan yang megah. Bagi mereka hal-hal seperti itu tidaklah esensial jika dibandingkan dengan kebutuhan akan laboratorium yang memadai.


Kesal? Pasti kita jadi ikut kesal terhadap rektorat ketika komentar-komentar penolakan itu disampaikan langsung ke telinga kita. Tapi apakah kita yakin bahwa kita pantas kesal seperti itu? Apakah kemudian kita pantas mengatakan bahwa rektorat tidak mau melihat kebutuhan warganya? Kita harus berpikir lagi, kawan. Di sini akan saya sampaikan beberapa opini yang akan menuntun kita kepada pemahaman ini.


Pertama, mahasiswa itu, tingkat berapa pun dia, adalah orang baru di universitas. Mahasiswa, adalah komunitas pemuda-pemudi yang selalu, rutin, dan tidak bisa tidak, selalu bertambah setiap tahunnya. Tiap libur semester genap, selalu saja ada orang-orang baru yang datang ke kampus UI, itulah mahasiswa. Ya, kita ini adalah kaum pendatang bagi kampus ini. Bandingkan saja dengan rektor, dekan, dosen, dan staf karyawan di kampus. Dibanding mereka, kita ibarat “anak kemarin sore”. Singkatnya, wajar dong kalau mereka terkesan lebih memegang peranan dalam penentuan arah kebijakan kampus. Lha wong mereka dari dulu udah di kampus.


Kedua, proyek yang dilaksanakan saat ini adalah buah dari kebijakan yang diambil 3 atau bahkan 4 tahun yang lalu. Pertanyaannya, siapa kita ketika “pemerintah” merapatkan rencana pembangunan di kampus ini? Kita bukan siapa-siapa, kawan. Percuma saja kita berteriak hari ini agar proyek pembangunan yang gila-gilaan ini dihentikan esok hari atau pekan depan. Hal ini, pembangunan ini, sudah direncanakan sejak dulu dengan berbagai persiapan yang tentunya tidak mudah.

Ketiga, pernahkah kita menyampaikan kebutuhan kita kepada rektorat sebelumnya? Saat kita berkata bahwa sebenarnya kita tidak butuh ini dan lebih membutuhkan itu, kita tidak dapat meminta rektorat langsung menjawab iya, apalagi langsung melaksanakannya. Hari ini, saat ini, adalah masanya melaksanakan kesepakatan yang dibuat dahulu. Dan ketika kesepakatan dibuat, bukan tidak mungkin mereka merasa suara-suara permintaan dari mahasiswa tidak pernah ada. Semestinya, kita sadar bahwa kebutuhan kita saat ini butuh waktu untuk dapat dipenuhi. Itu wajar...


Dari ketiga opini di atas, saya buat kesimpulan dan saran yang mudah-mudahan dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi kita, senior kita, dan junior kita kelak dalam berpartisipasi membangun kampus. Secara pribadi, saya simpulkan bahwa penolakan terhadap proyek-proyek yang sedang berjalan di kampus tidaklah tepat untuk dilaksanakan secara berlebihan. Saran saya, untuk menolak dan meminta pelaksanaan sebuah proyek di kampus, baik fisik maupun non fisik, mahasiswa harus melakukan persiapan yang matang terlebih dahulu. Mahasiswa pun harus memiliki visi untuk universitas ini ke depannya, menyampaikan kebutuhannya, dan mengawasi rencana-rencana yang sedang disusun oleh pengelola kampus. Bagaimanapun, dalam sebuah negara mini ini, pemenuhan segala kebutuhan harus didiskusikan dahulu agar tidak merugikan pihak lain, dan yang penting, semuanya butuh waktu.

18 Des 2009

Konstruksi Sarang Laba-Laba: Kombinasi Struktur Beton dan Tanah


Pondasi yang kuat merupakan kebutuhan bagi setiap bangunan, kita tahu itu. Ibarat fluida, gaya pada struktur dapat ditransfer ke dalam tanah. Pondasi yang tepat dan kuat akan mampu meneruskan gaya yang diterima bangunan ke arah bumi.

Karena letaknya di dalam tanah, pondasi mutlak harus memperhatikan kondisi tanah tempat ia berdiri. Gerakan-gerakan tanah yang mungkin terjadi seperti mengembang, menyusut, tanah yang tidak stabil, hingga gempa bumi tidak boleh dilupakan dalam pembuatan pondasi. Jika ditemukan kondisi tanah kurang baik, seorang kostruktor harus mampu menyiasatinya, baik dengan pondasi yang tepat maupun dengan memberi suatu perlakuan khusus pada tanah itu sendiri.

Ada hal menarik berkaitan dengan “siasat” ini. Adalah dua insinyur Indonesia, Ir. Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto, yang telah berhasil menemukan suatu jenis pondasi yang dapat memadukan pondasi dan tanah menjadi satu kesatuan yang kokoh. Pada tahun 1976, keduanya memperkenalkan pada dunia suatu jenis pondasi baru yang diberi nama Konstruksi Sarang Laba-Laba. Pondasi ini terdiri dari bentuk-bentuk segitiga yang menyatu dan tampak seperti sarang laba-laba. Di tengah bentuk-bentuk segitiga itu diisi perbaikan tanah yang memungkinkan terjadinya kerja sama yang luar biasa antara pondasi dan tanah. Terdiri dari pelat tipis yang diperkaku dengan ribs (rusuk-rusuk), pondasi ini dapat menyebarkan rata semua gaya ke tanah dan mampu menahan gaya lateral akibat gempa.

Dikatakan bahwa pondasi yang termasuk pondasi bangunan bertingkat tanggung ini dapat menghemat biaya sekitar 30% dibandingakn pondasi konvensional (BKSDM PU). Ini terjadi mengingat 90% komponennya adalah tanah. Selain itu, pondasi ini dikatakan mampu menghemat waktu pengerjaan serta merupakan salah satu pekerjaan padat karya yang dapat menyerap tenaga kerja.

Bangunan yang menggunakan pondasi ini terbukti dapat bertahan di tengah bencana gempa. Bahkan dalam buletin BKSDM PU, disebutkan bahwa hampir 100 (seratus) bangunan teruji terhadap bencana gempa bumi hingga 9 pada Skala Richter (SR) dan tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam, Papua, Sumatera Barat, Bengkulu dan sekitarnya.

sumber:
http://bpksdm.pu.go.id/admin/file/Bulletin%20BPKSDM%20Edisi%20Keenam.pdf
http://www.ilustri.org/index.php?option=com_content&view=article&id=90:pondasi-sarang-laba-laba&catid=37:know-how&Itemid=2

12 Des 2009

Masih Mahasiswa

“Mas, nanti rekomendasinya tolong ditembuskan ke saya juga ya.”
Haduh, bapak ini over estimate banget sama mahasiswa. Saya jadi berpikir betapa bagusnya kalau teman-teman juga mendengar harapan Pak Lurah ini.
…..

Selasa siang tanggal 1 Desember 2009, matahari bersinar cukup terik. Pukul 13.00 saya berangkat ke Kantor Kelurahan Beji Timur untuk survey tugas besar mata kuliah ICES (Pengantar Sistem Rekayasa Sipil). Kali ini saya datang sendiri karena teman-teman sekelompok sedang ada jadwal kuliah. Berbeda dengan mereka, setiap hari Selasa saya memang kosong dari pagi sampai sore.
Kira-kira pukul 13.15 saya sudah berada di kantor kelurahan. Hari itu rencananya saya akan pergi dengan salah satu pegawai kelurahan, Pak Rudi, untuk berkeliling melihat kondisi Kelurahan Beji Timur. Menurut janji, seharusnya saya bisa jalan bersama beliau mulai jam 13.30; tapi ternyata sampai jam yang ditentukan, beliau belum datang juga. Saya pun menunggu di ruang tamu kantor kelurahan.
Sambil menunggu, saya ditemani oleh seorang pegawai kelurahan yang lain. Kami pun bincang-bincang sebentar. Pada awalnya, saya diserang dengan pertanyaan-pertanyaan beraroma perkenalan seperti “Dari jurusan mana, Mas?” atau “Ini untuk tugas apa ya?” Setelah cukup diinterogasi, saya pun mulai menyusun serangan balasan dengan bertanya pada bapak pegawai kelurahan ini. Sambil memegang majalah Warta Depok, saya mulai bertanya, “Ini terbit bulanan ya Pak?” lalu “Sepertinya setiap kelurahan diberi majalah ya, Pak?”. Sedikit demi sedikit kami mulai saling bersahut-sahutan. Lumayanlah, memberi kesan ramah kepada tuan rumah. Sampai saat terkutuk itu tiba...
Ketika itu saya sedang meneruskan pertanyaan saya dengan bertanya, “Pak, buku-buku di perpustakaan ini dari mana saja? Kelihatannya masih bagus?” Lalu bapak ini menjawab, “Dari provinsi, biasanya yang aktif memberi itu provinsi...” Belum selesai bapak itu bercerita, tiba-tiba mata saya jadi kabur dan kepala saya jatuh ke bawah ('O'). Sial sekali, saya tertidur di saat seperti itu..! ZZZ...ZZ...
Luar biasa, kantuk yang menyerang saya tidak bisa saya tahan. Semilir angin di kantor kelurahan terlalu lembut untuk diabaikan. Mungkin karena lapar, atau mungkin karena kelelahan bawa barang bawaan di tas (botol minum, kaos, aqua, rompi, dll.) saya pun akhirnya tumbang juga. Parah..
…..

Tidak lama setelah itu saya terbangun oleh suara seorang bapak yang berteriak, “Pak Rudi, ke sini Pak. Ada yang nyari ini dari UI.”
Plek, mata saya terbuka. Ternyata di sebelah saya bukan lagi bapak-bapak yang menemani saya tadi. Karena saya belum “nyambung nyawa”, saya tidak menyadari hal ini. Sekejap Pak Rudi mendatangi saya, bersalaman, dan bercerita sebentar tentang rencana hari ini. “Siap Pak,” sahut saya. Saya pun siap-siap berangkat. Tapi sebelum berangkat tiba-tiba Pak Rudi berkata, “Kenalkan Mas, ini Pak Lurah,” sambil mengarahkan kelima jarinya ke arah bapak-bapak yang dari tadi ada di depan saya. Wuua.. Salah tingkah saya, ternyata dari tadi saya tertidur di depan Pak Lurah dengan pose yang nggak oke (kebiasaan, kepala selalu menengadah kalau tidur sambil duduk).
Setelah minta maaf pada Pak Lurah dan sedikit berbincang, saya pun berangkat bersama Pak Rudy untuk kelililng kelurahan.
…..

Berboncengan, saya dan Pak Rudi mengelilingi Kelurahan Beji Timur untuk melihat kondisi drainase dan sistem bangunan di daerah itu. Dengan pengetahuannya yang lengap tentang kelurahan, survey ini jadi terasa ringan. Nggak hanya lewat pengamatan saja, data yang saya dapat juga berasal dari hasil obrolan saya dengan Pak Rudi. Malah, kadang Pak Rudi berhenti di pinggir jalan untuk sekedar menyapa warga di sana dan menanyakan langsung kondisi bangunan dan drainase di daerah itu. Ada kekurangannya juga cara ini. Saya jadi agak kagok. Kadang-kadang warga bercerita dengan menambahkan harapan-harapan, seakan-akan kelompok ICES kami adalah petugas yang diutus Pemda untuk menyelesaikan masalah di Beji Timur. Padahal saya masih mahasiswa. Eh, jangan-jangan penyebabnya warna kemeja saya yang coklat dan mirip seragam Pak Rudi?
…..

Dari kegiatan jalan-jalan ini, saya dapat katakan bahwa Beji Timur itu wilayah yang cukup padat. Memang, di tepi jalan utama kelurahan ini, rumah yang ada cukup bagus dan tertata rapi. Tapi jika kita masuk ke dalam lagi, kita akan menemukan daerah-daerah yang rumahnya saling berhimpit satu sama lain. Sebuah hal yang patut dicatat untuk laporan saya tentang sistem bangunan.
Di beberapa daerah, elevasinya sangat rendah. Terlihat perbedaan yang cukup mencolok antara ketinggian jalan di jalan utama kelurahan dengan elevasi daerah yang saya datangi. Tempat ini, menurut warga, sudah menjadi langganan banjir. Memang, tempat-tempat rawan banjir ini berada di tepi kali yang merupakan saluran pengumpul dari drainase di tiga kelurahan lain. Meski kalinya dalam, kira-kira 3 m, air masih bisa meluap.
Perjalanan kami lanjutkan ke bagian tepi kelurahan, menyusuri pagar pembatas kelurahan dengan Poltek UI. Di sini saya mengamati saluran akhir dari kali yang saya lihat tadi. Nggak proporsional banget, di ujung ini ternyata kedalaman dan lebar salurannya justru lebih sempit daripada kali yang ada di kelurahan. Bahkan tanaman yang merambat di pagar pembatas kelihatan menghalangi aliran air saat hujan. Sedikit demi sedikit dapatlah saya petunjuk masalah banjir di Beji Timur ini.
…..

Pukul 14.45, saya kembali lagi ke kantor kelurahan. Kali ini suasana di kantor sudah terlihat sepi. Pegawai-pegawai yang tadinya terlihat duduk di meja-meja pelayanan sudah tidak ada lagi.
“Silakan di minum, Mas,” kata Pak Rudi sambil menawarkan teh hangat kepada saya. “Gimana kesimpulannya? Kalau saya lihat sih masalah banjir di Beji Timur itu karena kali di ujung, yang menuju danau UI, kurang lebar. Masnya lihat sendiri kan tadi,” ungkap Pak Rudi. Ditanya begitu, saya pun menjawab dengan pendapat pribadi yang saya dapat secara spontan setelah berkeliling tadi.
Setelah habis obrolan kami, saya pun ijin untuk kembali ke kampus. Eh, ternyata saya disuruh mengahadap dulu ke Pak Lurah. Wah, Pak Lurah pulang lebih sore dari pegawainya, hebat, pikir saya. Masuk ke ruangannya, beliau pun menyatakan terima kasihnya karena sudah mau melihat kondisi kelurahan dan membantu menyelesaikan masalah di sana. Biasa lah, saya pun menjawab dengan cara-cara khas yang sopan untuk membalas pujian Pak Lurah ini. Selesai, saya pun bersalaman dan undur diri. Eh, Pak Lurah tiba-tiba bicara, “Mas, nanti rekomendasinya tolong ditembuskan ke saya juga ya.” Haduh, bapak ini over estimate banget sama mahasiswa. Saya jadi berpikir betapa bagusnya kalau teman-teman juga mendengar harapan Pak Lurah ini. Rasanya permintaan ini nggak pantas banget saya terima sendirian.
Menjawab permintaan beliau, saya pun nyengenges, “Iya Pak, insyaAllah kami sampaikan nanti.”

Begitulah, saya pun lalu mengambil motor dan kembali ke kampus untuk responsi Statika. Sepandai-pandainya mahasiswa keliling kelurahan, akhirnya balik ke kampus juga.
…..

Pelajaran yang saya dapat dari pengalaman ini adalah:
Pertama, mahasiswa, sebagai generasi intelek bangsa, harus selalu siap untuk turun ke masyarakat dan membantu. Ini agak susah buat saya. Kadang saya ingin dikasih predikat “masih mahasiswa” supaya bisa agak santai, tapi harus siap juga disebut “udah mahasiswa” karena kewajiban menunggu di depan mata.
Kedua, sebagai pemimpin, kita harus rela berkorban lebih daripada yang kita pimpin. Hal ini saya contoh dari Pak Lurah yang pulang paling sore.
Dan yang terakhir, segera balas kesalahan dengan cara yang baik. Karena sudah tidak sopan tidur di ruang tamu, saya langsung minta maaf dan mengajak Pak Lurah ngobrol supaya akrrab.

24 Okt 2009

Gempa dan Skala Richter

Ada hal menarik yang saya temukan waktu ngobrol dengan teman-teman hari ini, Sabtu, 24 Oktober 2009. Dalam obrolan tadi, kita menyinggung tentang prediksi gempa 8,9 skala Richter yang katanya bakal terjadi di Teluk Jakarta.



Lagi ngobrol, asisten praktikum kami (angkatan 2005) komentar. Kata dia, ukuran kekuatan gempa dalam skala Richter itu cuma akurat sampai kira-kira di angka 6 SR. Lebih dari angka itu, bisa berarti beda di lapangan. Misalnya aja, gempa Tasikmalaya dan gempa Padang, dua-duanya dikatakan berkekuatan sekitar 7 SR. Kenyataaannya, efek gempanya beda. Bisa disimpulkan, gempa dengan kekuatan di atas 6 SR itu aslinya bisa saja berarti kekuatannya sedikit lebih besar daripada 6 SR atau justru jauh lebih besar dari 6 SR.



Untuk konfirmasi info baru ini, saya lalu browsing tentang pengukuran kekuatan gempa dengan skala Richter. Berikut ini kira-kira summary dari bahan yang saya baca.:


Skala Richter dikembangkan oleh seismologis bernama Charles Richter (1900-1985) pada tahun 1930an. Tujuan diciptakannya skala ini adalah untuk menyajikan kriteria yang objektif dan konsisten tentang kekuatan gempa.



Angka-angka di skala Richter itu didapat dari hasil logaritma pembacaan amplitudo seismograf. Berarti, tiap selisih satu skala Richter, perbedaan amplitudonya itu sepuluh kali lipat. Eits, kita masih bicara tentang amplitudo seismograf, belum kekuatannya.



Ceritanya, skala Richter ini pada awalnya hanya menunujukkan perbandingan kekuatan suatu gempa dengan gempa lain, tidak secara langsung memberi informasi tentang kekuatan gempa. Gempa-gempa yang dibandingkan itu pun hanya yang terjadi di California saja (karena dia kerja di California).



Tidak puas, di tahun 1970an peneliti mencari skala baru untuk menunjukkan kekuatan gempa secara universal. Dari sinilah muncul perhitungan kekuatan gempa yang baru, yaitu seismic moment. Tapi karena skala Richter sudah telanjur dikenal luas, mereka pun membuat konversi dari seismic moment itu ke skala Richter. Skala baru ini walau pakai metode yang berbeda dengan Richter, tapi pada hasil akhirnya dia menunjukkan angka yang sama dengan skala Richter. Skala baru ini dinamakan moment magnitude scale.



Karena itulah kadang media di Amerika Serikat tidak lagi memakai skala Richter untuk menyebut kekuatan gempa; tapi mereka juga belum mengenalkannya sebagai moment magnitude scale. Akhirnya, sebutan kekuatan gempa di sana hanyalah “dengan kekuatan … (sebut angka saja).”





Nah,.. tentang pernyataan kalau skala Richter itu cuma akurat sampai sekitar angka 6 SR aja, saya belum bisa jelaskan di sini. Ada sumber yang bilang begitu, semisal Wikipedia, tapi sayang di tempat lain tidak ada yang menyinggung hal itu. Jadinya ya,.. belum bisa konfirmasi, sementara segini dulu aja. Mudah-mudahan bermanfaat. Allahu alam..

lirik SOMEWHERE I BELONG


When this began
I had nothing say
In I'd get lost in the nothingness inside of me
I was confused
And I let it all out to find that I'm
Not the only person with these things in mind
inside of me
but all the vacancy the worlds revealed
is the only thing thah i've got left to feel
nothing to lose
just stuck / Holllow and Alone
and the fault is my own
And the fault is my own

I want to heal
I want to feel
what I thought was never real
I want to go of the pain i've held so long
[Erase all the pain 'Til it's gone]
I want to heal
I want to feel
like I'm close to something real
I want to find something I've wanted so long
somewhere I belong

and i've got nothing to say
I can't believe I didn't fall right down on my face
I was confused
looking everywhere / only to find that it's
not the way I had imagined it all In my mind
so what am I
what do I have but negativity
'Cause I can't justify the
way everyone looking at me
nothing to lose
nothing to gain / hollow and alone
and the fault is my own
the fault is my own

I will never know
myself until I do this on my own
and I will never feel
anything else until my wounds are healed
I will never be
anything 'Til I break away from me
and I will break away
i'll find myself today

I want to heal
I want to feel
somewhere I belong

24 Sep 2009

Thypus, Gejala dan Penanganannya

Thypus adalah penyakit pencernaan yang patut diwaspadai.
Di bawah ini sedikit informasi tentang thypus yang sudah dikumpulkan dari beberapa sumber.

Penyebab sakit thypus adalah kuman Salmonella typhosa.

Penyakit thypus menular melalui makanan dan minuman yang tercemar kuman serta dari kotoran atau air kencing penderita thypus. Kuman Salmonella ini dapat menyebar ke hati, paru-paru, bahkan ke otak dan ini bisa berakibat fatal bagi penderitanya.

Gejala thypus adalah suhu tubuh yang bertambah tinggi setiap hari, terutama di sore dan malam hari. Biasanya, di pagi dan siang hari, pendertia thypus akan merasa dirinya sudah lebih sehat. Terkadang penderita tertipu dengan kondisi ini sehingga mereka tidak segera memeriksakan penyakitnya ke dokter. Setelah 7-10 hari, panas tubuh akan konsisten dan kontinyu. Memasuki minggu kedua ini, penderita akan merasakan panas dari pagi sampai malam hari. Di minggu ketiga, panas tubuh akan menurun dan terjadi penyembuhan atau justru terjadi komplikasi yang berakibat fatal.

Gejala lain adalah
nyeri di ulu hati dan lambung
nyeri otot
gangguan buang air besar (diare atau bisa juga sembelit)
sakit kepala
mual, sampai muntah-muntah

Pengobatan

Segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat penanganan yang tepat. Selain itu, penderita diharuskan untuk istirahat total dan melakukan diet lunak untuk mengistirahatkan kerja usus. Setahu saya pribadi, penderita thypus sebaiknya menghindari konsumsi berserat tinggi seperti kangkung. Buah pun sebaiknya dipillih, makan yang lunak saja, misalnya pepaya.

Pencegahan

Kuncinya ada di makanan. Antara lain adalah hindari jajan di tempat yang tidak bersih dan jangan memakan telur ayam setengah matang karena ada kemungkinan kulit telurnya tercemar kotoran ayam yang mengandung kuman thypus. Bisa juga melakukan vaksinasi thypus.

Disamping itu, sangat dianjurkan pula menjaga kesehatan dengan tidur yang cukup dan olahraga rutin. Orang yang pernah menderita thypus sebaiknya menghindari kelelahan karena thypus akan mudah kambuh pada orang yang lelah daripada pada orang yang belum pernah terkena sama sekali.

Allahu a'lam, semoga bermanfaat...

dirangkum dari Yahoo!Answer dan website kliniksehat


14 Sep 2009

1000 Alasan Penghambat Prestasi

Suatu hari saya menginap di Masjid Ukhuwah Islamiyah, Kampus UI Depok. Pagi harinya, ketika saya sedang berjalan bersama teman-teman untuk cari makan, saya bertemu dengan Ketua SALAM UI X2, Ahmat Setiabudi. Saya pun jalan di sampingnya sambil ngobrol.
Sewaktu ngobrolin FT, beliau nyeletuk, “Akh antum nggak ikut KIAS?”
Perlu diketahui, KIAS itu acara dari Lembaga Da’wah FTUI untuk mahasiswa baru. Bentuknya adalah mabit, mentoring, kajian, dan outbond.
Saya jawab, “Nggak, saya nggak bisa ikut sampai selesai dan waktu hari H keberangkatan nggak nemu teman buat pulang duluan.”
Beliau bilang, “Kan antum bisa tanya-tanya caranya pulang kalau nggak tahu jalurnya?”
Saya jawab, “Nggak enak.”
Sambil merangkul pundak saya, beliau bilang, “Akh, coba antum perhatikan. Sebenarnya alasan itu ada karena pikiran kita juga. Misal tadi, ana tanya kenapa antum nggak ikut KIAS, antum jawab dengan dua alasan. Kalau ana tanya lagi, antum pasti bakal beralasan lagi. Begitu seterusnya.”
Beliau melanjutkan, “Itu karena antum sudah berpikiran untuk nggak ikut. Coba antum berpikiran ‘Saya harus ikut’ maka akan muncul 1000 alasan untuk membuat antum ikut.”
DEGG. Hati saya jadi tersentil. Ternyata nggak ada gunanya saya mengajukan alasan, pada akhirnya terbaca juga kalau saya itu pada dasarnya nggak niat ikut.
Renung..
Begitulah, saat berangkat memang saya mencari teman untuk pulang duluan. Tapi begitu gagal sekali, saya langsung menyerah dan mengajukan beragam alasan pada diri saya dan orang lain.
Maka karena obrolan itulah saya menjadi melek, bahwa ternyata saya ini masih terlalu banyak alasan dan belum benar-benar konsisten dalam memegang keinginan. Karena inilah banyak usaha saya, dalam akademis ataupun organisasi, yang terbengkalai. Saya terlalu permisif dengan diri sendiri. Ya, saya sering membuat 1000 alasan atas kealpaan saya, yang sebenarnya hanya akan menghambat prestasi.
Jangan Mau Selamanya Beralasan
Teman-teman sekalian, ternyata alasan adalah salah satu ciri orang yang tidak bisa me-manage dirinya sendiri dan juga tanda-tanda orang yang tidak mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Saya mengajak diri saya sendiri dan teman-teman sekalian untuk mengurangi alasan dan menjadi orang yang lebih aktual.
“Rusa dan singa itu, sama-sama tahu bahwa mereka harus berlari cepat untuk dapat bertahan hidup.”

Sekilas Pandang Teknik Sipil (Part 1)


Nggak terasa sudah dua semester kuliah di Teknik Sipil UI, akhir Agustus besok insyaAllah mau masuk semester tiga. Serasa baru sebelas hari yang lalu (hitungannya nanggung :P) ikut latihan Padus di Balairung. Begitulah, tugas kuliah di Sipil itu: intens banget, benar-benar ngabisin waktu dan tenaga sampai-sampai dua semester terasa cepat.

Materi Kuliah

Di Sipil UI, materi kuliah dua semester pertamanya itu tentang pengetahuan-pengetahuan alam dasar seperti Kalkulus, Fisika, dan Kimia, ditambah dengan mata kuliah wajib teknik.

Dari sekian banyak mata kuliah di Sipil, materi-materi khas Sipil selalu ngambil porsi besar dalam hal ngerepotin mahasiswa. Di semester satu ada mata kuliah Menggambar Teknik. Materinya tentang teknik-teknik dasar menggambar, baik pakai tangan (manual) ataupun pakai AutoCad. Tugas besarnya itu tentang rumah sehat. Mahasiswa disuruh mencari literatur mengenai syarat-syarat rumah sehat lalu mengadakan pengamatan dan pengukuran terhadap sebuah rumah warga. Setelah membandingkan keadaan riilnya dengan kriteria, mahasiswa ditugaskan untuk menggambar ususlan perbaikan rumah untuk membuat rumah tersebut memenuhi kriteria rumah sehat.

Sense of Engineering

Sounds interesting, eh? Memang ini interesting kok. Kalau kata Pak Josia, dosen Teknik Sipil UI, dalam Menggambar Teknik ini sebenarnya mahasiswa baru dilatih untuk mengembangkan sense of engineering nya. Dulu, ketika awal masuk, kita suka ditantang untuk menebak ukuran suatu ruang dan “isi” dari suatu karya teknik Sipil. Di gamtek, kita dituntut untuk pegang penggaris dan mengukur langsung rumah.

Yah, paling nggak, sekarang udah ga buta tentang ketekniksipilan.

Lanjutannya

Di semester berikutnya, mahasiswa dapat lanjutan dari Menggambar Teknik. Mata kuliahnya dinamakan Konstruksi Bangunan. Mata kuliah ini merupakan sekilas pandang mengenai semua kegiatan dan peminatan di Teknik Sipil.

Perlu diketahui, Sipil itu luas banget, ada yang tentang transportasi, struktur bangunan, kekuatan tanah, bangunan air, dan manajemennya. Tapi di semester ini mahasiswa lebih ditekankan untuk ngerti mengenai struktur rumah, khususnya rumah dua tingkat.

Rancang Sendiri Rumahmu

Tugas besarnya adalah menggambar lengkap struktur bangunan rumah dua tingkat. Di awal tugas, kita cuma dikasih denah rumah. Tugas mahasiswa adalah memikirkan bagaimana caranya membangun denah itu ke atas dan ke bawah supaya bisa jadi rumah dua tingkat yang oke. Omong-omong “dibangun ke bawah” itu cuma istilah pribadi sih, maksudnya itu bikin pondasi.

Nah, setelah tugas dikumpulkan, tugas kita dikembalikan untuk kemudian didiskusikan sama kelompok yang baru. Oh iya, perlu tahu nih, tugas konstruksi bangunan tadi itu tugas individual, tiap orang punya rencana rumahnya masing-masing.

Menghitung Biaya

Dari sekian gambar yang dibawa anggota kelompok, kita disuruh memenentukan RAB (Rencana Anggaran Biaya) salah satu desain. Jadi ceritanya kita benar-benar mau membangun rumah dari desain yang kita buat.

Nah, untuk tugas yang satu ini kita butuh buku referensi dan daftar harga material-material bangunan. Kalau itu semua sudah kita dapat, selanjutnya kita harus menghitung volume bangunan kita. Jujur saja, di semester dua kemarin hitungan saya jauh dari harga rata-rata. Selidik punya selidik, ternyata saya sempat salah hitung volume.

Memang benar kalau teman-teman bilang tugas yang satu ini ribet banget, banyak yang harus dihitung dan harus teliti. Banyak teman-teman yang nggak tidur lho.


Absolutely Incredible


Begitulah sekilas review dua semester di Sipil UI. Alhamdulillah, nggak nyesal ngambil Teknik Sipil di UI, habis asyik sih. Tapi saya juga sadar, saya ini masih perlu banyak belajar. Banyak kesempatan dan ilmu bertebaran di hari-hari saya, tapi sedikit sekali yang bisa kumanfaatkan. Malahan ada yang “terbuang”. Mudah-mudahan di semester tiga nanti nggak akan terulang lagi hal yang seperti ini. Amin.

Dahsyatnya Fisika

Dalam buku Schaum’s Outline: Physics for Engineering and Science, Michael Browne menceritakan bagaimana seorang petualang memanfaatkan fisika untuk mengeluarkan mobilnya yang terjebak dalam lumpur.

Alkisah, diceritakan bahwa saat ia dan kawan-kawannya sedang berburu, mobil pickup yang mereka kendarai terjebak lumpur. Kemudian, seorang kawannya mengambil tali yang kemudian ia kaitkan ke badan mobil dan di ujung lainnya ia lilitkan ke sebuah pohon yang berada di depan mobil. Setelah itu, ia pun menarik bagian tengah tali itu sehingga tali itu membentuk sudut 100 dari posisi normalnya dan tertarik dengan gaya 400N. Apa yang ingin ia lakukan? Ternyata ia ingin mencoba menarik mobil itu dengan gaya yang sekecil-kecilnya.

Gambarnya menjadi


Dengan membagi segitiga yang dibentuk oleh tali menjadi dua, maka didapat

Maka F = 200 N x tan ɵ = 200 N x tan 800 = 1134,26 N

Berarti, hanya dengan memberi gaya 400 N di tengah tali, ia telah menarik mobil itu ke arah depan dengan gaya sebesar 1134,26 N. Awesome, isn’t it?


PROFIL

Hai, namaku Herlambang Cipta Aji, salam kenal. Aku adalah seorang muslim yang lahir di Nusa Tenggara Timur tujuh belas tahun yang lalu. Sekarang ini profesiku adalah mahasiswa Departemen Teknik Sipil FTUI angk. 2008.

Alamatku saat ini adalah di Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur. Saat sekolah dulu, aku sempat menetap di beberapa tempat: Mempawah (Kalimantan Barat), Solo, Samarinda dan Jogja. Pernahkah Anda melihatku di tempat-tempat yang disebutkan itu?

Aku adalah anak dari Sumpeno dan Handri Anik Effendi. Kedua orang tuaku adalah orang Jawa asli, karena itulah darah Jawa tetap mengalir di diriku meskipun aku sudah pernah berada pada beberapa budaya lingkungan yang berbeda. Hal yang sama juga berlaku pada adikku, Rani Mahita Aji. Sedikit banyak kami live in Javanese Way.

Selain dari rumah dan lingkungan, kepribadianku pun aku tempa lewat organisasi. Saat ini aku tercatat sebagai pengurus Rohis Teknik Sipil dan Lingkungan FTUI. Aku juga pernah menjadi anggota dari Rohis Al Uswah SMAN 1 Yogyakarta dan KIR SMAN 1 Yogyakarta (disebut Teladan Science Club).

Yah, pencarian jati diri memang nggak ada habisnya. Begitu banyak daerah kutinggali, begitu banyak budaya kurasakan, sampai saat ini masih belum dapat identitas yang pas. Cuma satu yang pasti: Muslim.

Lewat dunia maya inilah aku mencoba mencari satu lagi media penempaan diri. Maka, mohon bantuannya ya