26 Jul 2014

Munculnya Pemimpin Mongol

Bangsa mongol terkenal dengan kisah Jengis Khan, penguasa barbar yang terkenal kejam. Kenyataannya, ia begitu dikagumi oleh rakyatnya hingga sekarang. Bangsa mongol pernah menguasai dunia, menjadi prajurit yang ditakuti karena kepemimpinan Jengus Khan.

Pernahkah disadari bahwa skill yang dibutuhkan untuk membawa jutaan rakyat berperang sama dengan skill yang diperlukan untuk membuat seluruh rakyatnya pada kedamaian? Semuanya membutuhkan Persuasi. Jenghis muda sudah memiliki hal ini ketika ia masih kecil. Dibesarkan dari sebuah keluarga bangsawan, Jenghis sejak usia empat tahun sudah bisa menunggangi kuda dan sejak saat itu mulai dilatih untuk menjinakkan kuda, menggembala domba, mengumpulkan kotorannya untuk bahan bakar, dan mengawasi terbak dari serigala. Memikul tanggung jawab sudah ia kenal sejak masih dini.

Di kemudian hari, Jenghis remaja berusia 13 tahun pernah ditawan oleh klan yang mengkhianati dan membunuh kepemimpinan ayahnya. Dalam kondisi sendiri, ia mampu menjalankan diplomasi dengan salah satu saudara pemimpin klan tersebut. Mulai dari tidur tanpa belenggu di leher, hingga bersembunyi di tenda sahabatnya kala melarikan diri. Kemampuannya dalam mempengaruhi orang sudah berkembang di usia belianya.

Suatu waktu, sambil membaca buku sejarahnya, saya baru menyadari bahwa dibandingkan Jenghis, saya hanyalah anak kecil yang jauh dari kematangan. Meski sudah bekerja, saya masih sering dihantui ketakutan dalam memegang tanggung jawab. Meski dewasa, saya masih gagap dalam menghadapi orang lain, terutama dalam negosiasi menghadapi decision maker. Maka mulai saat ini, saya ingin belajar menggembala. Mengorganisir, memberi kesenangan, dan memberi manfaat -tapi bukan dengan kambing atau kuda, melainkan manusia, tentu dengan cara yang manusiawi dan semangat kesejahteraan. Setiap masa punya lingkungan yang berbeda, tapi saya percaya ilmunya tidak akan berkurang. Apa yang bisa dipelajari orang masa lalu pasti bisa kita pelajari di masa kini.

#makeithappen

24 Jul 2014

Excuse

Apa godaan terbesar orang dalam bekerja? Excuse.

Pada dasarnya bekerja adalah alur dari ide, keputusan, instruksi, proses, dan hasil. Sebagai pekerja, kita sering terjebak dalam mindset yang feodal: bergerak menunggu arahan atasan. Awal mulanya kita percaya instruksi akan membuat kita bekerja rapi dan militan bak angkatan bersenjata. Setiap kali ada tugas, harus dibikin tertulis dulu dan ada disposisinya. Lama kelamaan bukan hasil yang kita dapat, tapi cuma birokrasi.!

Apalagi kalau dalam prosesnya banyak orang yang menyerah karena ada halangan di sini, mentok di situ, menunggu follow up si anu, tergantung ai itu. Lama, semuanya Excuse. Tidak ada progress karena merasa dirinya hanya menjalankan tugas. Apa bisa dikata, pada akhirnya customer jadi korban.

Bos, inget kita memang karyawan. Tapi kita juga orang berpendidikan. Kita tahu cara berpikir ilmiah: cari latar belakang, tentukan tujuan, pilih metode, planning caranya, do, action, lalu evaluasi dan hasilkan kesimpulan. Ini bukan berhasil atau tidak, ini adalah komit atau tidak. Ini bukan masalah ada halangan atau tidak, tapi adalah tentang mau atau tidak. Kalau mau, semua pasti bisa.

So guys, make your self a boss. You are leader of yourself. Have desire to your goal and you will achieve it..!

Salam badak

1 Jun 2014

Ingat Kampus

Siang ini saya melewati suatu aksi simpatik mendukung salah satu pasangan capres-cawapres.




Awalnya sempat takut, sangat khawatir warung makan kesukaan saya diokupasi oleh simpatisan dan batal makan siang. Untungnya tidak begitu kejadiannya.

Saya tetap bisa parkir dan makan di warung itu. Sekilas melihat ke dalam, saya sadar bahwa ada yang menarik hari itu: saat di luar penuh oleh pendukung capres B, di dalam mayoritas bangku diisi oleh pelanggan beratribut capres A.

Suasananya menarik, mengingatkan saya pada masa kuliah. Waktu itu kami dari Tk Sipil UI diajarkan bagaimana menang dari level supporter. Okupasi bangku penonton, dominan di mata dominan di telinga, dan tentunya kompak. Ini meski belum tentu benar, tapi sudah cukup membuat saya merasa de ja vu dan rindu suasana kampus. 

.......

Saudara, maaf saya ijin dulu tak lanjut menulis. Tidak kuat saya menahan rasa kangen ini. Saatnya stalking teman kampus. Bye and good bye