25 Jun 2010

MRT DKI: Mau Dibawa Ke Mana?

Menurut hasil penelitian Dinas Perhubungan DKI Jakarta tahun 2009, kerugian yang dialami oleh semua warga Jakarta akibat kemacetan mencapai 17,2 triliun per tahun. Kerugian yang dimaksud adalah kerugian material akibat bahan bakar, waktu yang terbuang, dan ganguan kesehatan yang disebabkan oleh kemacetan lalu lintas.

Guna mengatasi masalah kemacetan ini, pemerintah DKI Jakarta berencana menyelenggarakan suatu sistem transportasi massal yang disebut sebagai MRT (Mass Rapid Transit). Dasar idenya adalah, mengurangi kemacetan lalu lintas dengan mengalihkan pengguna kendaraan pribadi kepada angkutan publik. Direncanakan pada bulan November 2011 proses pelelangan fisik telah selesai dilaksanakan dan awal 2012 pembangunan akan segera dimulai. Jika lancar, pada tahun 2016 jalur MRT Rute 1, dari Lebak Bulus menuju Bundaran Hotel Indonesia diharapkan telah dapat beroperasi. Dari tiga belas terminal yang melayani jalur tersebut, enam di antaranya akan dibangun di bawah tanah.

Pembangunan MRT ini akan memakan biaya sekitar 15 triliun rupiah. Meski jumlahnya sangat besar, pemerintah DKI optimis proyek ini akan berjalan lancar karena dana yang dibutuhkan sudah tersedia, yaitu dari bantuan Jepang (JICA).

Pendapat Ahli

Ternyata rencana yang demikian "moncer" ini tidak 100% disambut secara positif oleh ahli transportasi yang ada di DKI sendiri. Prof. Dr. Irwan Katili, Eng. DEA, Kepala Departemen Teknik Sipil UI, telah mengungkapkan pendapatnya. Seperti yang diberitakan oleh Republika 23 Mei 2010, proyek ini tidak tepat diadakan di Jakarta, apalagi di masa sekarang. Selain karena biayanya yang sangat besar, ia juga mengkritik besarnya kebutuhan teknis yang harus dipenuhi untuk mengadakan jalur bawah tanah MRT ini. Pertimbangan ini menjadi makin masuk akal mengingat Jakarta adalah daerah rawan banjir. Tentunya butuh perencanaan yang matang untuk melubangi jalan di bawahnya dengan sebuah jalur transportasi umum.

Komentar pun muncul dari Dr. Jachrizal Sumabrata, ST, M.Sc, Eng, PHD. Ahli transportasi dari Universitas Indonesia ini menilai bahwa pembangunan MRT bukanlah solusi untuk kemacetan Jakarta. Akan lebih bijaksana jika pemerintah daerah berbenah diri terhadap pelayanan transportasi publik yang sudah ada.

Agaknya memang jika diperhatikan, rencana MRT ini terlalu ambisius untuk segera dilaksanakan. Akan banyak pengorbanan yang harus dirasakan oleh pemerintah dan warga hingga proyek ini selesai dibangun. Lagipula percuma saja pemerintah mengadakan proyek besar seperti ini jika pengelolaannya masih sama dengan pengelolaan TransJakarta yang kita ketahui tidak memuaskan. Sepakat dengan Pak Jack, lebih baik perbaiki dulu pengelolaan faslitas yang ada. Jika saja masyarakat bisa digiring berpindah ke TransJakarta, lega lah jalan DKI ini.

Tapi mau bagaimana lagi, rencana sudah disetujui, lelang pun akan mulai dilaksanakan bulan November ini. Semoga saja proyek ini tidak menjadi proyek mubazir yang harus disesali warga DKI. Harapan lain, semoga saja para ahli dan mahasiswa nantinya dapat berkontribusi untuk mendukung pengoperasian MRT ini sehingga hasilnya lebih maksimal. Tentunya pemerintah juga harus memberi ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi, jangan hanya pihak swasta saja yang berhak mengambil keputusan.

19 Jun 2010

Zero-C Concrete: Beton Anti Retak


Sebagai material bangunan yang paling banyak digunakan, pantaslah jika teknologi beton mendapat perhatian yang besar dari para pelaku konstruksi dunia. Untuk memenuhi kebutuhan masa kini, para ahli terus berusaha melakukan pengembangan dalam teknologi beton ini. Salah satu inovasi yang baru-baru ini ditemukan adalah penemuan beton anti retak, yang diberi nama Zero-C Concrete.

Salah satu masalah yang sangat sering ditemukan pada beton adalah keretakan (cracking). Retakan ini berakibat pada berkurangnya usia beton. Polutan yang masuk melalui sela-sela retakan dapat menyebabkan gangguan pada ikatan-ikatan material dalam beton.

Berawal dari masalah inilah BASF Construction Chemicals yang berbasis di Ohio menciptakan Zero-C Concrete. Dengan suatu set bahan-bahan yang telah mengalami proses fabrikasi, dapat dibentuk suatu campuran beton yang anti retak. Jika pada campuran beton biasa timbul retakan setelah proses curing, Zero-C Concrete tidak mengalami retak bahkan hingga 120 hari setelah penuangan beton segar ke cetakannya.

Teknologi beton ini juga memiliki nilai ekonomis bagi para konstruktor. Biaya perbaikan yang biasanya harus terus dikeluarkan setiap kali beton mengalami kerusakan dapat terkurangi mengingat Zero-C Concrete memiliki durabilitas yang lebih tinggi daripada beton biasa.

Inovasi BASF ini tak ayal menarik perhatian para pelaku konstruksi di sekitarnya. Dalam demonstrasi yang dilakukan di kantor pusatnya, banyak engineer dari A.S dan Kanada yang mengungkapkan ketertarikan dan keinginnya untuk dapat segera mengaplikasikan beton ini pada konstruksi mereka. -Semoga saja Indonesia memperoleh kesempatan untuk dapat menggunakan teknologi terbaru ini dalam rangka efisiensi bagi pembangunan berbagai fasilitas publik-

sumber: http://www.cleveland.com/business/index.ssf/2010/05/basf_in_beachwood_says_its_new.html